Bukankah tidak ada yang abadi? Semua berubah, termasuk saya
KKN dan PPL
Berawal dari 1 Juli 2011 dan akan berakhir tanggal 30 September 2011. Dipanggil bu guru disebuah sekolah di area perbukitan, yang setiap menuju sekolah harus mendaki bukit…
Belajar mengerti cara berpikir anak-anak, dan masih sering takjub dan heran….
Tanpa orang yang biasa ada disekelilingku…
“Ketika tak ada orang yang menggenggam tanganmu, saatnya kau kepalkan tangan dan katakan, aku bisa”
Bumi Manusia (Resensi)

Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Harga : Rp. 90.000
Tebal : 535
Penerbit : Lentera Dipantara
Nama Pramoedya Ananta Toer yang besar tentulah terbentuk karena karya-karyanya yang juga diakui oleh dunia. Roman “Bumi manusia” adalah bagian pertama dari Tetralogi Buru. Pram menulisnya di kamp kerjapaksa tanpa proses hukum pengadilan di pulau Buru.
Roman ini bersetting di Surabaya pada awal abad 19, saat dimana Hindia Belanda berdiri. Tokoh utamanya adalah Minke, seorang keturunan priyayi yang merupakan siswa H.B.S dimana orang-orang eropa dan indo dapat bersekolah, dan hanya sedikit pribumi yang dapat bersekolah disana, itupun dengan syarat-syarat tertentu. Pada suatu saat, ia memasuki kehidupan yang sama sekali lain semenjak ia berkunjung ke Wonokromo, rumah seorang Nyai. Nyai adalah panggilan untuk seorang gundik. Gundik adalah pendamping dari seorang Eropa tanpa ikatan pernikahan. Nyai Ontosoroh, tidak seperti penilaian orang umum. Ternyata Nyai ini bahkan mempunyai kemampuan melebihi kemampuan dan pengetahuan kebanyakan wanita Eropa. Siapa yang berhadapan dengannya akan tenggelam oleh kata-katanya. Minke begitu terkesima pada Nyai dan jatuh cinta pada putrinya, Annelies Mellema. Keluarga Mellema sangat misterius, ada banyak hal yang tidak diketahui oleh umum, satu-persatu permasalahan muncul dan menguak dalam kehidupan mereka.
Masalah yang begitu pelik adalah tentang hukum eropa, bagaimana perlakuan antara totok, indo dan pribumi akan mendapatkan perlakuan hukum yang berbeda. “Bahkan terlahir sebagai pribumi adalah suatu kesalahan”, kata Nyai Ontosoroh pada suatu waktu. Ia yang tak berdaya dijadikan gundik, setelah selama 20 tahun ia berjuang, semua yang dimilikinya harus ia lepas, hanya karena keberadaannya tidak di akui Hukum Eropa.
Roman ini memberikan penjelasan yang sangat tajam terhadap masing-masing tokohnya, sehingga mempunyai karakter yang kuat. Setiap kalimat yang ditulis padat dan tajam. Pembaca akan mengetahui banyak istilah belanda dan penjelasannya.
Begitulah yang mampu saya tangkap dari roman yang menurut saya sangat bagus ini. Pantas saja bila Karya ini sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan mendapat banyak penghargaan. Kisah ini adalah salah satu potret kehidupan menjelang kebangkitan nasional. Membacanya adalah melihat sejarah dari sisi yang lain.
” Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
@shopping centre Jogjakarta



Tepatnya pada tanggal 23-30 Januari kemarin, pendidikan ekonomi ’08 melakukan KKL di kota Solo, Jogja, Semarang, Bandung, dan Jakarta. Kali ini aku mau menceritakan sedikit cerita di jogjakarta. Sore itu, jadwal untuk wisata belanja di seputaran Malioboro. Dari tempat parkir bus, kita udah jalan cukup jauh. Lumayan capek juga karena sehari ini juga penuh kunjungan. Sore itu hari yang ku tunggu-tunggu, karena aku dan Dinar berniat ke kawasan toko buku, namanya shopping centre. Setelah membeli beberapa batik di pasar Beringharjo, kita mulai tanya orang-orang dimana letaknya tempat itu. Kita tanya sekitar tujuh orang atau bahkan lebih. Kiki, yang menemani kami udah lelah..Tapi aku dan Dinar masih semangat… Jalan terus.., Ternyata shopping centre jauh juga dari pasar malioboro (kalo jalan kaki). Kami menebak-nebak berulang kali masih jauh apa tidak… Di jalan yang tadi di tunjukkan seorang satpam, terlihat toko-toko tutup. “Wah, gimana ini,”pikir ku cemas. ternyata toko-toko buku itu di seberang jalan. Tepatnya di sebelah Taman Budaya. Kami sudah punya daftar buku yang mau di cari. Diantaranya :
1.Tasaro GK : Muhammad
2. Sapardi Djoko Damono : Hujan Bulan Juni
3.Goenawan Mohamad:Kata, waktu
4. Goenawan Mohamad: Tuhan dan hal-hal yang tak selesai
5. Goenawan Mohamad: Catatan pinggir
6. Dan brown : The lost symbol
Kenapa daftarnya banyak? Karena aku yakin nggak semua ada, jadi biar mudah menggantinya..tinggal absen.^-^
Dan ternyata yang ada hanya catatan pinggir dan The lost symbol, dan aku akhirnya membeli ranah 3 warna juga. Karena waktunya sudah mepet, kami tidak bisa berlama-lama. Kami segera mencari becak dan segera ke tempat parkir bus. Dan kami datang tepat waktu…
Info: di shopping centre ini selalu ada diskon lho…jadi lumayan, dan buku catatan pinggir yang nggak ada di gramedia Lampung, akhirnya aku punya juga. Ingin suatu saat kembali kesana, menyusuri setiap detil kota jogjakarta.
Tentang hujan
Datangmu kadang tak diharapkan, tapi banyak juga yang berdoa agar kau datang
Hujan datang apa adanya, tidak mempedulikan berapa orang yang kecewa, berapa orang yang bahagia saat ia mengunjungi tanah dan bunga-bunga…
Karena sesungguhnya dia datang membawa kebaikan…Menghapus panas untuk beberapa saat…
Hujan..kau pernah meluruhkan semua harapan..
Pernah ingin mengikuti air yang jatuh dari awan..
Mungkin dengan melepaskan mendung dimataku, aku bisa menjadi secerah awan putih lagi…
Kadang itu lebih baik, daripada harus menjadi awan abu-abu yang mengandung air, tapi tak juga jatuh menjadi hujan…
Aku ingin seperti hujan, dia datang atau tidak datang, selalu saja ada yang memikirkannya..
Saat ia lama tak berkunjung, orang sering berdoa memohon kedatangannya
Tapi saat hujan datang, ada seseorang dibalik jendela yang juga ingin kau segera berhenti, karena ia ingin pergi…
Lucu ya…sesuatu bisa ditunggu-tunggu, sesuatu itu pula yang kadang ingin kita hentikan..mungkin karena kita merasa sudah lebih dari cukup…
Di tulis pada Jum’at, 11 Juni 2010
Antara Secuil kertas dan diary
Beberapa hari yang lalu, saat membaca buku lama, aku menemukan selembar kertas yang ternyata ada tulisan yang ku tulis pada tanggal 23 november 2008. Lumayan…ternyata tulisanku masih lugu.hahaha…udah 2 tahun yang lalu. Jadi ingat masa-masa yang belum seberat sekarang. ^-^.Cukup untuk membuatku tersenyum saat aku membacanya.
Aku pertama punya buku diary itu pas umur sembilan tahun, pas waktu kelas tiga SD kalau nggak salah. Dulu ternyata aku suka nulis juga ya?? Kalau membaca buku, aku memang sudah menyenanginya sejak kelas dua SD. Hufft..Aku nggak sadar kalau dulu aku suka nulis sih… Setiap kali aku baca buku diary itu, aku tersenyum geli, lucu banget tulisannya. Polos abizz…Dari certa beli shampoo sampai si Mimi mati -burung peliharaan aku dan Mbak Ning- semuanya ditulis. Ketika aku membacanya kembali rasanya kejadian itu berarti sekali untukku. Aku seperti melihat aku di masa kecil dengan sebuah teropong waktu, atau seperti Nobita yang datang menilik masa kecilnya dengan alat doraemon. Asyik sekali. Kelak, aku akan tersenyum pula melihat tulisanku sekarang.
Aku tau, tulisanku=sejarahku.
Ya, membaca tulisan ini, membuatku teringat aku dulu lebih simpel sepertinya dalam berpikir. Makin tua kok merasa lebih banyak pertimbangan ya? Tapi memang perlu si..(lho..kok curhat?).
Yang jelas memang menuliskan apa yang kita pikirkan itu perlu, karena ingatan kita tidak bisa mengingat dengan jelas semuanya.
Aku tetap kembali
Hingar bingar diluar sana
Ada pekik kemenangan, ada tangis yang menyayat,
Ada yang tersesat,
Ada juga yang mau dikenang sebagai pahlawan
.Chaos.
Mereka bercampur baur, dunia jadi terasa sempit. “Bukankah ini tempat tinggal kita?”, kata mu suatu hari.
“ya, ini rumah kita, kemanapun kita pergi,kita akan pulang” kataku menjawabnya.
Aku hanya ingin masuk kamar sebentar, menikmati sunyi. Lalu merayakan segala kegaduhan yg biasa kita lakukan. Aku tidak akan pernah lari, kawan.
Kemanapun aku pergi atau sembunyi, aku akan tetap pulang.
JIKA
Kawan, jika kelak aku tak bisa berjalan beriringan denganmu
Tetaplah tersenyum walau kita hanya saling menatap dari kejauhan
Kawan, jika kelak aku tertinggal
Tetaplah memberiku tongkat estafet semangatmu
Kawan, jika nanti aku tidak bisa bersama kalian
Aku akan belajar berpetualang sendiri dan mengingat perjuangan kita tentang mimpi-mimpi yang bisa seharian kita bincangkan kala senggang.
Hari yang penuh angka
Kali ini ingin memposting kegilaanku, sudah tidak tau harus berucap apalagi. Dulu pas masih sma pengen banget segera kuliah.
Sekarang terasa berat. Semester lima ini yang terberat yang pernah ada. Stres tingkat tinggi. Ingin cepat lulus. Mata kuliah yang cukup berat yaitu metodologi penelitian dan Dasar-dasar evaluasi Pendidikan. Pak dosen, tolong berikan nilai yang bagus untuk kami…
Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Mengerjakan tugas dan latihan-latihan.
Hari ini dari pagi sampai sore berkutat dengan angka-angka, jam 8 ketemu UAS AKL 1. Pas dapet soal malah nggak tau gimana cara ngerjainnya, kemudian Praktek akuntansi, yang ini yakin benar deh..
Dan yang paling mantap adalah DDEP, otak ini udah langsung nyari jalan buat nyelesaiin soal-soal dari validitas, reliabilitas, dan penentuan ranking. Walaupun sudah berlatih berkali-kali, tapi giliran dapat soal, pasti tetep aja pusing. Mungkin karena harus liat skor yang banyak itu. dan harus di hitung satu-satu. Wah, pokoknya penutupan Yang meriah ibarat sebuah pesta. DDEP adalah penutup untuk UAS semester ini.
Ah, jika aku tidak lulus mata kuliah diatas..terancam KKN ku tahun ini…
Dan aku ingin menikmati KKL akhir januari dengan bahagia, bukan dengan perasaan sedih.
Semangat! semoga ada toleransi, atau keajaiban. Amien…^-^
#mahasiswayangmenunggukhs
Bagaimana caranya membayar hutang pada diri sendiri?
Sering sekali terlintas pertanyaan itu dalam benakku, bagaimana cara aku membayar hutang pada diri sendiri? Begitu banyak janji, janji yang ku ucapkan pada diriku sendiri. Dan ternyata, aku tidak bisa menunaikannya. Padahal yang namanya janji adalah menjadi kewajiban kita untuk menunaikannya, membayarnya.
Apa hanya aku saja orang yang selalu mengabaikan janji? Tahun lalu, sederet hal-hal yang harus kulakukan sudah kutulis, jelas. Tapi begitu sampai di akhir desember, masih banyak yang belum tersentuh. Memang tidak ada yang akan protes terhadap hal ini. Tapi sepertinya ada rasa yang tidak enak, seperti merasa tidak bertanggung jawab, namun kadang seperti lupa ingatan, atau lebih tepatnya berusaha lupa ingatan tentang janji itu, masa bodoh.
Tahun ini, seperti juga tahun-tahun sebelumnya, aku juga membuat daftar hal-hal yang harus dilakukan di tahun 2011. Sepertinya umurku yang hampir 22 tahun, cukup menjadi alasan untuk aku bertumbuh, dan belajar menepati kata-kata ku sendiri.
Masihkah ada janjimu yang belum kau bayar kawan?
